Muhadhoroh Pencetak Kader Pemimpin Ahlul Qur’an

480
0

Program Muhadhoroh merupakan program pembinaan para santri menjadi seorang dai sekaligus pembicara yang mahir dan professional.

Muhadhoroh berasal dari kata حضر يحاضر yang berarti hadir, sebagai mim mashdar menjadi محاضرة yang artinya ceramah atau Pidato. Muhadhoroh memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah untuk melatih para santri supaya bisa berani tampil depan umum atau mengasah kemampuan public speaking.

Muhadhoroh dilaksanakan setiap malam Ahad jam 18.30 sampai selesai. Petugas muhadharah terdiri dari Pemateri, MC, Qori, Doa, Tasliyah dan Dekor. Masing-masing petugas sudah dibagi jadwal berdasarkan kelompok Muhadhoroh.

Metode dan Teknik Muhadhoroh

  1. Menghafal Teks. Metode ini sangat dianjurkan oleh Pondok dan menjadi target kita untuk masing-masing santri supaya bisa menghafal dan menguasai materi. Dilakukan dengan cara berpidato tanpa teks (dihafal).
  2. Penjabaran kerangka (poin-poin). Metode ini dilakukan dengan menuliskan poin-poin penting yang kemudian dilakukan improvisasi atau pengembangan terhadap poin-poin tersebut dengan bahasa sendiri.
  3. Membaca Teks. Metode ini sangat tidak dianjurkan oleh pondok, namun jika dalam kondisi tertentu diharuskan untuk membaca maka itu dibolehkan. Yaitu melakukan ceramah atau pidato dengan melihat skrip atau teks yang sudah ditulis atau di print terlebih dahulu

Metode dan Teknik Bicara Rasulullah

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Jabir, ia berkata, “Pembicaraan Rasulullah adalah tartil (pelan-pelan) atau tarsil (berurutan).

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.a. ia berkata, “Bicara Rasulullah Saw. adalah terpisah (antara satu bagian dengan yang lainnya) yang bisa dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya.

Ada 5 poin dari metode dan teknik yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu:
1. Pelan (Lower Voice)
2. Jelas (Clearly Speaking)
3. Tidak tergesa-gesa (Slowly Speaking)
4. Tidak bertele-tele (No Redundent)
5. Menggunakan Bahasa Tubuh

Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan pengasuh anak Yatim adalah bagaikan ibu jari dan telunjuk di surga.

Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhori dari Abu Musa, Rasaulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan bangunan, yang satu menguatkan lainnya. Kemudian beliau menyelang-nyelangi antara jarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *